banner 728x250
Opini  

Membangun Pariwisata Terintegrasi di Kabupaten Toba

Sereida Tambunan, Bakal Calon Bupati Kabupaten Toba Periode 2024-2029. (Foto: Infografis Rubrika)

RUBRIKA – Berdasarkan data Dinas Pertaniian dan Peternakan Pemerintahan Kabupaten Toba capaian produktivitas sektor pertanian pada 2023 mengalami peningkatan. 

Toba memiliki potensi lahan sawah seluas 17.117 hektar ditambah lahan kering seluas 36 ribu hektar. 

banner 336x280

Terdapat pula lahan padang penggembalaan ternak seluas 4.733 hektar dan lahan yang belum diusahakan seluas 30.626 hektar.

Ketersediaan bermacam jenis lahan ini merupakan potensi yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan dalam mewujudkan swasembada pangan dan ketahanan pangan serta peningkatan produktivitas pertanian di Kabupaten Toba. 

Target capaian produksi komoditi unggulan seperti padi, jagung, bawang merah dan kopi tahun 2023 mengalami kenaikan signifikan.

Komoditi padi pada 2023 yang ditargetkan 138.532,70 ton realisasinya mencapai 141.074,55 ton. Produksi jagung pada 2021 mencapai 49.446 ton meningkat menjadi 59.507 ton pada 2022. 

Badan Pusat Statistik Kabupaten Toba 2023 mengungkapkan terdapat 10 komoditas pertanian yang paling diusahakan secara perorangan, yaitu padi sawah hibrida 24.925 unit; jagung hibrida 17.040 unit; kopi 8.552 unit; kemiri 4.879 unit.

Untuk ayam kampung biasa 4.689 unit; babi 3.845 unit; alpukat 2.796 unit; uni kayu 2.612 unit; kakao 2.482 unit; dan durian lainnya 1.891 unit. Untuk ternak sapi berjumlah 3.149 ekor dan 3.987 ekor ternak kerbau. 

Semua komoditas tersebut selama ini menyumbang pemasukan bagi pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Toba. Selain itu, usaha pertanian ini juga memberikan pendapatan ekonomi bagi rumah tangga pertanian dan menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat di daerah itu. 

Dan pemasukan bagi pendapatan Kabupaten Toba tidak hanya bersumber dari bidang pertanian (subsektor pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, dan peternakan), namun juga bidang pariwisata. 

Pariwisata Danau Toba telah menjadi ikon dunia. Pariwisata ini telah menjadi destinasi prioritas di Indonesia sejak 2014. Peningkatan kunjungan wisata dalam dan luar negeri ke Danau Toba terus meningkat setiap tahun.

Perbaikan sarana dan prasarana terus diusahakan oleh setiap pemerintahan di Kabupaten Toba periode per periode. Semua itu dilakukan untuk mencapai optimalisasi target pencapaian bidang pariwisata di Toba. 

Namun bagaimana membangun pariwisata yang terintegrasi di Kabupaten Toba ke depannya masih menjadi masalah besar dan tantangan yang menarik. 

Toba dengan potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusianya dapat menjadi titik-pijak untuk pembangunan pariwisata yang lebih kreatif dan inovatif. 

Sebagai contoh, wisata agroindustri yang mendorong daerah-daerah tertentu di Toba menjadi sentra wisata. 

Wisata pertanian padi, jagung, kopi, rempah-rempah, peternakan, dan perikanan akan mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung, tinggal dan belajar sesuatu yang baru. 

Paket wisata yang lengkap bisa dijual kepada wisatawan untuk datang ke Toba menikmati wisata danau, sejarah, budaya, cagar alam, dan agroindustri. 

Wisata danau di Toba relatif sudah berkembang meskipun masih memerlukan pembangunan lebih jauh. 

Namun wisata agroindustri belum tergarap sama sekali, karena minimnya sarana prasarana serta sumberdaya manusia untuk mengelola hal itu. 

Meskipun kegiatan produksi pertanian dengan subsektornya dikerjakan secara rutin oleh masyarakat setempat, namun bidang ini tidak terintegrasi dengan bidang pariwisata sehingga tidak dirancang untuk menjadi bagian yang penting untuk memajukan wisata.

Padahal dengan terintegrasinya wisata danau dengan agroindustri akan banyak peluang baru bagi masyarakat di Toba untuk memanfaatkannya. 

Misalnya akan terbuka peluang kerja bagi penduduk di lokasi-lokasi wisata. Terjadi peningkatan pendapatan bagi rumah tangga petani, peternak, dan lainnya. 

Berkembang kreativitas lokal bagi anak-anak muda untuk memajukan desa-desanya karena potensi-potensi yang ada. 

Di beberapa daerah di Indonesia yang telah mengembangkan wisata agroindustri misalnya padi, ternyata ini bisa menjadi wisata edukasi bagi anak-anak yang selama ini tidak atau kurang mengenal apa itu padi dan bagaimana proses memproduksinya dari hulu hingga ke hilir. 

Wisata yang bersifat edukatif ini mampu menarik minat wisatawan dari daerah sekitar maupun luar wilayah. 

Di Banyuwangi terdapat banyak lokasi wisata tanaman buah naga. Wisata ini juga bersifat edukatif sekaligus kulinari karena produk buah naga harus diolah menjadi aneka santapan yang juga menarik minat wisatawan.

Pengalaman terlibat dalam proses produksi menjadi sensasi tersendiri bagi wisatawan sehingga tidak sekadar ingin menikmati suasana baru ataupun nuansa yang berbeda dari tempat asal si wisatawan. 

Di Toba potensi semacam itu sangat terbuka luas, karena sumberdayanya tersedia dan menanti orang-orang kreatif untuk mengolahnya. 

Tentu tantangannya adalah peningkatan infrastruktur penunjang, modal kerja, pelatihan, dan strategi pemasarannya.

Kabupaten Toba memerlukan kolaborasi dengan daerah-daerah kabupaten sekitarnya untuk dapat mengoptimalkan kerja-kerjanya membangun pariwisata semacam itu.

Contohnya optimalisasi wisata danau Toba dikerjakan bersama dengan kabupaten lain yang mengitarinya. 

Dengan terlibatnya wisata agroindustri menjadi bagian penting bidang pariwisata di Kabupaten Toba, maka penataan sektor ini harus dilakukan dari hulu ke hilir. 

Semua pihak yang berkontribusi bagi sektor ini perlu diajak duduk bersama menyatukan visi dan misi, sehingga seirama dalam menyelesaikan masalah-masalah yang muncul serta mencari solusi-solusi yang tepat berdasarkan sumberdaya yang  tersedia.

Misalnya industri kopi, hal ini memerlukan penanganan yang menyeluruh dari potensi lahan, ketersediaan benih, pengelolaan yang inovatif, pengolahan, pemasaran, dan hilirisasi produk menjadi produk turunan lainnya. 

Untuk ini dibutuhkan sarana dan prasarana serta modal kerja yang memadai bagi pelaku industri, apabila hendak diintegrasikan kedalam bidang pariwisata, maka infrastruktur lainnya masih dibutuhkan sebagai sarana pendukung. 

Tantangan membangun pariwisata yang terintegrasi tidaklah mudah, namun peluangnya sangatlah terbuka dan mungkin untuk dikerjakan. 

Lagi-lagi dituntut tata pengelolaan yang baik dan berkesinambungan yang sinergi dengan program pembangunan Kabupaten Toba lainnya. 

Untuk ini, Toba yang tertata pemerintahannya, sumberdaya manusianya, dan sumberdaya alamnya menjadi sangat penting.

Pembangunan pariwisata yang gemilang yang mengintegrasikan agroindustri di dalamnya akan memberikan nilai tambah bagi pemerintah daerah, masyarakat, dan kelestarian ekologis yang ada. 

Sudah waktunya bagi Kabupaten Toba memulai cara-cara baru dalam meningkatkan perkembangan pariwisatanya. 

Semua pihak mesti terlibat di dalamnya untuk mendiskusikan dan mencari solusi-solusi yang ampuh yang bermanfaat bagi semua pihak.

Dan karena ini menyangkut masa depan daerah Toba, maka kehadiran kaum mudanya, perempuan dan laki-laki, hendaklah nyata.

Generasi muda amat penting bagi kelangsungan Toba dalam konteks pariwisata yang terintegrasi. Kaum muda yang selama ini menghadapi kelangkaan lapangan kerja akan melihat peluang yang positif dengan pariwisata yang ada. 

Mereka akan kembali ke kampung halamannya bagi yang merantau untuk membangun kembali. Bekerja menjadi petani, petambak, pekebun, peternak, dan lainnya akan menjadi profesi yang menjanjikan dan menarik karena tersedianya kesempatan masa depan yang lebih baik. 

Mereka akan mendapatkan keuntungan ekonomis dan  kultural karena tetap menghidupi tradisi yang ada sembari menikmati dunia masa depan yang cerah. Toba na Ture, Jala na Sere!

Oleh: Sereida Tambunan (Bakal Calon Bupati Kabupaten Toba Periode 2024-2029)

banner 336x280