banner 728x250

Wakil Ketua DPRD Jatim Ungkap Adanya Kecurangan di Pemilu 2024

Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Anik Maslachach.

RUBRIKA – Menjelang Pemilu 2024, tentunya para calon legislatif dan pasangan calon presiden dan wakil presiden tengah gencar melakukan kampanye untuk memperkuat hasil suara dalam rangka memenangkan hal tersebut.

Banyak sekali cara-cara yang dilakukan oleh caleg dan capres untuk mengumpulkan suara banyak di mana beberapa diantaranya sempat menjadi titik perhatian masyarakat sekitar.

banner 336x280

Namun, usaha-usaha dari beberapa calon dianggap sudah menyimpang bahkan dianggap melakukan kecurangan, hal tersebut ditanggapi oleh Wakil Ketua DPRD Jawa Timur (Jatim) Anik Maslachach yang membenarkan atas hal tersebut (terjadi kecurangan).

“Sesungguhnya setiap kontestasi sekalipun kita mengatakan asas pemilu luber (langsung, umum, bebas, dan rahasia) dan jurdil (jujur, adil), faktanya setiap pasca event Mahkamah Konstitusi dipenuhi dengan isu kecurangan-kecurangan termasuk di Jawa Timur,” kata Anik Maslachach kepada wartawan Rubrika.

Beberapa usaha caleg untuk berkampanye memang berbagai dan beragam, namun Anik juga melihat adanya proses kampanye yang melampaui batas diantaranya seperti memanfaatkan tenaga instansi negara untuk berkampanye.

“Satu diantaranya dimulai apa? Ada bentuk instruksi terhadap PNS untuk memobilisir, bahkan di beberapa viral mobil Pertamina dipakai ngusung baliho capres-cawapres tertentu. Itu sudah kasat mata,” kata Anik.

Dengan adanya praktik kecurangan yang terjadi untuk memenangkan suara entah itu dari segi Pilpres ataupun Pilkada, tentu masyarakat sudah bisa mengetahui bahwa hal tersebut merupakan masuk ke dalam tindakan kecurangan dalam berkampanye.

“Tanpa berbicara orang akan bisa tahu bahwa itu adalah kecurangan. Karena pertamina itu memakai uang negara kemudian dipakai untuk personal di antara salah satu capres cawapres itu sudah digunakan, sebelum start, belum apa-apa itu sudah menunjukkan itu (kecurangan),” pungkas Anik.

Tak hanya itu, Anik mengungkapkan beberapa kejadian viral seperti beberapa calon menteri yang memberikan instruksi kepada PNS untuk mengusung kepada salah satu calon hingga melakukan back up.

“Maka bagi kami, kita berjalan terus, kita sesuai dengan apa yang disampaikan oleh sambutan Gus Muhaimin bahwa kontestasi itu ibarat sepak bola bahwa kita itu butuh kekompakan tidak hanya calon-calon yang kompak sekalipun kita adalah kompetitor bagaimana kita menjadi tim work agar pasca pertandingan ini ya damai-damai saja, bisa tetap kondusif, Indonesia bisa tetap stabil,” ujar Anik.

“Sehingga perlu komitmen bersama, perlu sportifitas. Diantara mengapa menjadi ‘chaos’ (pemicu) beberapa pertandingan sepak bola oleh para penonton ya karena diantaranya ada tontonan yang membuatnya terpancing diantaranya adalah wasitnya curang memihak kepada salah satu akhirnya satu pendukung dengan yang lainnya tentu tidak menerima terjadilah keos,” katanya.

Atas hal tersebut, Anik mengajak kepada seluruh masyarakat untuk tetap sportif dan menjaga demokrasi di Indonesia tetap terjaga. Dan apabila memang terjadi kecurangan maka tidak ada langkah lain untuk mengatasi hal tersebut selain memviralkan agar menjadi titik pusat perhatian masyarakat sekaligus cepat terselesaikan.

“Ya kita viralkan karena memang eranya sudah seperti itu, agar Indonesia ini tetap bisa melaju dengan baik pasca kontestasi tetap kondusif. Karena kondusifitas dan stabilitas itu menentukan bangsa lain percaya atau tidak. Legitimasi demokrasi akan menentukan masa depan bangsa yang akan datang,” jelas Anik.

Hal tersebut merupakan gambaran apabila proses demokrasi bagus maka akan menimbulkan dampak positif pada laju pembangunan yang akan datang.

“Karena prosesnya baik maka hasilnya akan baik. Mudah-mudahan kecurangan itu tidak akan terjadi tapi yang terjadi adalah semuanya sportif, semuanya baik, tidak ada keberpihakan, wasitnya netral, pemainnya hingga penontonnya, sehingga legitimasi demokrasi terjaga,” harap Anik. (***)