banner 728x250

Wagub Jatim Emil Dardak Evaluasi Kembali Pembangunan Pelayanan Publik di Masa Jabatannya

Wagub Jatim Emil Dardak usai rapat paripurna di Gedung DPRD Provinsi Jawa Timur, Senin (30/10/2023). (Foto: Faiz/Rubrika)

SURABAYA – Usai rapat paripurna di Gedung DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim), Senin (30/10), Wakil Gubernur (Wagub) Jatim Emil Elistianto Dardak menceritakan refleksi dirinya selama menjabat.

Emil Dardak mengungkapkan kesadarannya bahwa program-program tertentu pada periode 2020-2021 tidak mendapat prioritas.

banner 336x280

Pengakuan ini menyoroti pentingnya penentuan prioritas yang efektif dalam pengembangan pelayanan publik. Sebagai wakil gubernur, Emil mengevaluasi dan menilai kembali program dan inisiatif yang dilaksanakan untuk memastikan selaras dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat.

Dengan mengenali bidang-bidang yang perlu ditingkatkan, Emil mengevaluasi perubahan positif dan meningkatkan pelayanan publik di kawasan Jawa Timur khususnya ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

“Ada program di tahun 2020/2021 harus ditempatkan tidak seprioritas penanganan Covid-19. Nah ini berdampak secara menyeluruh,” kata Emil.

Dari sudut pandang lain, Emil menyoroti pentingnya sebuah pencapaian kecil sebagai pembelajaran berharga untuk melangkah maju. Perspektif ini bisa sangat relevan dalam konteks pengembangan pelayanan publik.

Dirinya mengakui dan menghargai pencapaian-pencapaian kecil ini dapat memberikan motivasi dan rasa kemajuan. Hal ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah, betapapun kecilnya, berkontribusi terhadap pembangunan dan peningkatan pelayanan publik secara keseluruhan.

Dengan menyadari pentingnya langkah kecil, Emil mengungkapkan Pemprov Jatim dapat mempertahankan momentum dan terus berupaya mencapai tujuan yang lebih besar.

“Memang kalau kita lihat secara makro, indikator kita menunjukkan hasil yang patut kita syukuri. Jadi kita lihat secara keseluruhan melihat bahwa capaian itu cukup berjalan dengan baik, ” ujar Emil.

“Seandainya waktu itu kita bisa optimal dalam capaian yang modelnya itu ada 2. Ada yang model capaiannya itu seperti instan lah, ada yang sifatnya juga seperti membangun momentum seperti misalnya pengembangan-pengembangan kelambagaan dan sebagainya, ” lanjut Emil.

Emil mengakui kerjasama dengan Pemprov Jatim terkendala keterbatasan waktu. Hal ini terutama terlihat dalam upaya bersama mereka untuk meningkatkan pelayanan publik, yang bertujuan untuk memberikan dampak langsung namun bertahap.

Ia juga menyoroti pentingnya untuk menyeimbangkan kebutuhan akan hasil yang cepat dengan kebutuhan akan perbaikan yang berkelanjutan dan jangka panjang.

“Ya kalau start-nya agak mundur pasti kerasa, karena yang kita bicarakan adalah bagaimana ada waktu dan energi agar untuk membangun itu menjadi manfaat,” ucap Emil.

Dalam diskusi baru-baru ini, Emil menyinggung soal Bus Trans Jatim, produk angkutan umum yang sedang dikembangkan Dinas Perhubungan Jawa Timur.

Diakuinya, program yang masih dalam tahap pengembangan ini telah mendapat masukan dari masyarakat, khususnya warga Surabaya yang menginginkan modernisasi Bus Trans Jatim.

Emil menegaskan, Pemprov Jatim mengapresiasi masukan tersebut, namun saat ini fokus memastikan program Trans Jatim bisa efektif melayani seluruh wilayah Jatim dan berkontribusi terhadap mobilitas warga hingga menjangkau pelosok.

“Kalau itu sepakat, tapi kalau ini bisa genjot seperti hasilnya Trans Jatim bisa jalan, penyebrangan-penyebrangan lain bisa jalan, ” ungkap Emil.

“Itu merupakan sesuatu yang hasilnya langsung, bisa kerasa hasilnya. Begitu duitnya ada langsung kita lanjutkan, ” sambungnya.

Pernyataan Emil menyoroti fakta bahwa tidak semua perkembangan terjadi secara terpisah. Dalam kasus tertentu, terdapat perkembangan yang bersifat kumulatif, artinya perkembangan tersebut saling melengkapi seiring berjalannya waktu.

Dengan mengenali dan memanfaatkan kekuatan perkembangan kumulatif, perusahaan dapat merencanakan tindakan mereka secara strategis untuk memaksimalkan dampak keseluruhan dan mencapai hasil yang diinginkan.

“Walaupun hari ini jalan-jalan sudah bagus sebenarnya bisa lebih bagus lagi seandainya waktu itu kita tidak harus banyak me-time (beristirahat) saat pandemi,” tutupnya. (***)