banner 728x250

Kian Memburuk, PP GMKI Soroti Dampak Polusi Udara di Jakarta

Ketua Umum PP GMKI, Jefri Edi Irawan Gultom. (Foto: Ist)

RUBRIKA, JAKARTA – Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) menyampaikan keprihatinannya atas kondisi udara Jakarta yang belakangan ini kembali memburuk. 

Berdasarkan data IQAir, Jakarta menempati peringkat ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada Selasa (22/8/2023) siang.

banner 336x280

Menurut PP GMKI, polusi udara Jakarta harus diselesaikan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak.

“Polusi udara Jakarta merupakan masalah yang kompleks dan membutuhkan solusi yang komprehensif,” kata Ketua Umum PP GMKI, Jefri Edi Irawan Gultom.

Jefri menjelaskan, berdasarkan pengamatan berbagai pihak dan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), ada lima sumber utama polusi udara di Jakarta, termasuk didalamnya Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), Transportasi, Uap air, Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta El Nino.

Jefri menyoroti bahwa dari sumber-sumber tersebut, transportasi dan PLTU dianggap sebagai penyumbang terbesar polusi udara di Jakarta. 

Kendaraan bermotor, menurut data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta, berkontribusi sebesar 96,36% emisi CO, 57,99% emisi PM10, dan 11,58% emisi SO2 di Jakarta.

“Transportasi dan PLTU merupakan dua sumber utama polusi udara di Jakarta,” kata Jefri.

Selanjutnya, Jefri menegaskan PP GMKI mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi polusi udara, khususnya di sektor transportasi. 

Beberapa kebijakan yang direkomendasikan meliputi pengembangan transportasi umum yang nyaman dan terjangkau, peningkatan pengawasan terhadap emisi kendaraan bermotor, serta promosi penggunaan kendaraan listrik.

Untuk mengatasi masalah polusi udara PLTU, Jefri mengusulkan agar pemerintah segera mengganti bahan bakar PLTU dari batu bara menjadi energi terbarukan.

“Pemerintah harus segera melakukan transisi energi dari batu bara ke energi terbarukan, seperti solar, angin, dan air,” kata Jefri.

Alumni Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia itu juga mendorong ASN untuk mengikuti instruksi Mendagri yang menginstruksikan ASN Jabodetabek WFO Naik Transportasi Umum.

“Langkah ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi polusi udara dari sektor transportasi,” kata Jefri.

Menurut Jefri, upaya rehabilitasi lahan dan hutan serta pengendalian karhutla juga diusulkan sebagai langkah untuk mengurangi polusi udara di Jakarta.

Selain itu, Jefri juga menyoroti dampak polusi udara terhadap kesehatan masyarakat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, jumlah pasien ISPA di Jakarta meningkat tajam dalam beberapa minggu terakhir. 

Pada minggu pertama Agustus 2023, jumlah pasien ISPA mencapai 10.000 orang. 

Jumlah ini meningkat hingga 20% di minggu kedua Agustus, dan meningkat hingga 30% di minggu ketiga Agustus.

“Peningkatan jumlah pasien ISPA ini merupakan dampak dari polusi udara yang semakin memburuk di Jakarta,” kata Jefri.

Jefri menegaskan, PP GMKI akan terus mendorong pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama mengatasi masalah polusi udara Jakarta.

“Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kualitas udara di Jakarta agar tetap sehat dan aman bagi masyarakat,” tutup Jefri. (***)