banner 728x250
Daerah  

Puluhan Petani di Pasuruan Upacara Gunakan Topi Caping, Beri Pesan Soal Ketahanan Pangan 

Puluhan Petani di Dusun Parelegi, Kabupaten Pasuruan Upacara Bendera Gunakan Topi Caping, Rabu (17/08/2022). (Foto: Rubrika)

PASURUAN – Untuk menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-77, beragam cara dilakukan masyarakat.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Warga Dusun Parelegi, Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.

banner 336x280

Warga setempat melaksanakan upacara bendera di area lapangan persawahan Dusun Parelegi, Rabu (17/08/2022).

Panitia Upacara Dusun Parelegi, Soni, mengatakan, upacara peringatan HUT RI ke-77 ini memang tidak seperti pada umumnya yang di adakan oleh instansi dan institusi lainnya.

Namun upacara pengibaran bendera saat ini diikuti oleh puluhan anggota Kelompok Tani (Poktan) Dadi Makmur 1 Dusun Parelegi, Purwodadi, Kabupaten Pasuruan dan diikuti peserta dari masyarakat desa dari berbagai elemen.

“Upacara HUT RI ke-77 kali ini sedikit berbeda, sebab pesertanya bukan dari kalangan menengah tetapi dari kelompok tani dan warga dusun parelegi,” kata Soni yang juga Ketua Poktan Dadi Makmur 1.

Soni menambahkan bahwasanya upacara HUT RI ke-77 tahun 2022 sebagai bentuk antusias dari masyarakat yang selama ini belum pernah melakukan upacara bendera di kampugnya sendiri.

“Dari antusias dan keinginan warga, upacara HUT RI ke-77 ini bisa kami laksanakan dan hal ini merupakan upacara bendera pertama kalinya di kampung kami ini dan pakaian seragam kami utamakan berpakaian petani serta memakai caping yang biasa di pakai untuk ke sawah,” ungkapnya.

Dia juga menjelaskan, kegiatan tersebut sebagai upaya untuk mengajak seluruh elemen, terutama pemerintah pusat dan daerah, agar memikirkan bagaimana nasib para petani serta lahan persawahan kedepan.

Sebab, banyaknya pembangunan, terutama perumahan, dan pembanggunan jalan tol arah Malang-Surabaya semakin mengancam sawah sebagai lumbung ketahanan pangan.

“Bila alih fungsi lahan ini tidak diantisipasi, mungkin suatu saat kita hanya bisa menceritakan kepada anak cucu bahwa dulu ada yang namanya sawah tapi sekarang sudah tidak ada karena semuanya berubah jadi beton,” jelasnya.

Sekedar untuk diketahui, meski pelaksanaannya dilakukan secara sederhana, upacara tersebut tetap berlangsung dengan khidmat.