banner 728x250

Perdana Menteri Sri Lanka Angkat Bicara Perihal Kebangkrutan Negaranya

Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe di Kolombo, Sri Lanka pada 11 Juni. (Foto: ist)

KOLOMBO – Perdana Menteri (PM) Ranil Wickremesinghe menjelaskan di depan parlemen Sri Lanka “bangkrut”, Selasa (5/07). Negara dari Asia Selatan tersebut menderita krisis keuangan terburuk dalam beberapa dekade, membuat jutaan orang berjuang untuk membeli makanan, obat-obatan dan bahan bakar.

Wickremesinghe mengatakan kepada anggota parlemen bahwa negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menghidupkan kembali ekonomi “runtuh” negara itu “sulit”, karena negara Asia Selatan berpenduduk 22 juta itu telah memasuki pembicaraan sebagai negara bangkrut, bukan negara berkembang.

banner 336x280

“Kami sekarang berpartisipasi dalam negosiasi sebagai negara bangkrut. Oleh karena itu, kami harus menghadapi situasi yang lebih sulit dan rumit dari negosiasi sebelumnya,” jelas Wickremesinghe dihadapan parlemen dikutip dari CNN Internasional, Rabu (06/07/2022).

Pada Selasa, PM Wickremesinghe mengatakan dia berharap bahwa laporan tentang restrukturisasi utang dan keberlanjutan akan diserahkan kepada IMF pada bulan Agustus. Setelah ada kesepakatan, program bantuan pinjaman komprehensif akan disiapkan untuk jangka waktu empat tahun.

“Karena negara kita dalam keadaan bangkrut, kita harus mengajukan rencana keberlanjutan utang kita kepada (IMF) secara terpisah. Hanya ketika mereka puas dengan rencana itu, kami dapat mencapai kesepakatan. Ini bukan proses yang mudah,” lanjutnya.

Sri Lanka berada di tengah-tengah krisis keuangan terburuk dalam tujuh dekade, setelah cadangan devisanya anjlok ke rekor terendah, dengan dolar hampir habis untuk membayar impor penting termasuk makanan, obat-obatan dan bahan bakar.

Sekolah telah ditangguhkan dan bahan bakar telah dibatasi untuk layanan penting. Di beberapa kota besar, termasuk ibukota komersial, Kolombo, ratusan orang terus mengantri berjam-jam untuk membeli bahan bakar, terkadang bentrok dengan polisi dan militer saat mereka menunggu.

Pada Minggu Menteri Energi Sri Lanka, Kanchana Wijesekera, mengatakan negara itu memiliki bahan bakar yang tersisa kurang dari satu hari.

“Dalam hal bahan bakar dan makanan, negara kita akan menghadapi krisis ini pada suatu saat. Bahan bakar langka. Harga pangan naik. Akibat krisis global belakangan ini, situasi ini menjadi lebih akut dan kami yang berada di penggorengan jatuh ke dalam oven,” jelas Wijesekera, seraya menerangkan krisis internasional seperti perang Rusia-Ukraina telah memperburuk keadaan.

banner 336x280