banner 728x250

Yuk! Pahami Konsep Metafisik Theologis

Ilustrasi Alam dan Dunia Berpikir (Sumber :Dictio.id)

RUBRIKA – Memahami konsep metafisik secara theologis tidak terlepas pemikiran dari Santo Agustinus, seorang filsuf teranama yang lahir pada masa scholastic.

Ia sepenuhnya mencurahkan pemikiran pada filsafat murni. Pandangan spekulatif murninya lebih didasarkan dengan penyelarasan terhadap kitab suci.

banner 336x280

Dimana kitab suci menjadi standar maupun acuan dari gaya berpikir hingga konsep theologia menjadi salah satu konsumsi pemikiran para filsuf era scholastic.

Tentu saja ini yang memicu pemikiran para pemikir-pemikir yang lahir pada era abad pertengahan, dimana doktrinitas telah menjadi asupan pemikiran yang disalurkan kepada masyarakat kala itu.

Dalam hal pembahasan antara kenyataan tidak sepenuhnya sama dengan sebuah eksistensi. Dalam hal ini khususnya yang merujuk pada pertanyaan mendasar, ada baiknya kita membedakan pemaknaan yang terjadi dalam istilah-istilah kenyataan dan eksistensi itu tersendiri.

Sebagai contoh “apakah Tuhan nyata ada?” bila kita membahas mengenai perkataan nyata itu bereksistensi, maka yang diberi makna menempati ruang dan waktu tertentu dapat terlihat jelas bahwa Tuhan tidak bereksistensi, karena itu tidak nyata ada.

Disisi lain, apakah Tuhan nyata ada? Dari sini dianggap suatu hal yang tidak bermakna dimana apakah Tuhan ini adalah sebagai dewa yang nyata ada? Atau Tuhan ini sebagai suatu penamaan tersendiri yang disematkan melalui berbagai nama seperti Allah atau Yahwe itu sendiri.

Melalu konsep kajian ini kita berpikir bahwa dalam konteks penciptaan sendiri akan bumi dan dunia ini bukan berasal dari teori big bang (ledakan besar) dimana semesta terbentuk atas ledakan besar yang terjadi di alam semesta.

Agustinus menjelaskan bahwa penciptaan itu muncul dari ketiadaan, sebagaimana yang diajarkan dalam kitab peranjanjian lama, merupakan sebuah gagasan yang sepenuhnya asing bagi filsafat Yunani.

Ketika Plato berbicara tentang penciptaan, ia membayangkan adanya suatu materi purba yang lantas diberi forma Tuhan. Gagasan tersebut juga berlaku pula pada pemikiran yang dijelaskan oleh Aristoteles.

Tuhan yang dijelaskan merupakan seorang tukang ataupun arsitek daripada pencipta. Substansi yang dibayangkan adalah sesuatu yang kekal dan tidak diciptakan, hanya forma saja yang berasal dari kehendak Tuhan.

Aguste Comte juga menjelaskan mengenai konsep metafisik dimana masyarakat memiliki suatu kepercayaan dimana bahwa ada kekuatan abstrak yang menentukan kejadian di dunia.

Hal tersebut dilihat dari pola kebiasaan terbentuk dari masyarakat yang membentuk konsep keberadaan Tuhan sebagai eksistensi yang ada. Comte coba menjelaskan bagaimana bentuk-bentuk dari eksistensi munculnya Tuhan melalui tahapan evolusi masyarakat.

Bagi Thomas Aquinos ia menjelaskan cara membuktikan eksistensi Tuhan melalui iman. Ia menekankan penting mengingat bahwa kebenaran agama yang bisa dibuktikan juga bisa diketahui dengan iman.

Bukti-bukti itu sulit, dan hanya bisa dipahami oleh kaum terpelajar, tetapi iman adalah penting bagi kaum adam, dan orang-orang yang karena kesibukan sehari-hari, tidak mempunyai waktu untuk mempelajari filsafat. Bagi mereka wahyu sudah cukup.

Secara metafisik Tuhan yang di esensikan sendiri, karena jika Ia tidak tunggal, tetapi tersusun dari dari esensi dan eksistensi. Dalam diri Tuhan, esensi dan eksistensi adalah identik.

Berbeda dengan Descrates yang memertanyakan pengetahuan, dimana ia menyatakan adanya sebuah presepsi tersendiri dari apa yang dilihat dan menjadi imajinasi dimana diperlukan ada pemeriksaan akal.

Jika eksistensi Tuhan telah dibuktikan, selebihnya akan berjalan dengan mudah. Jika Tuhan itu baik, dia tidak akan berbuat seperti setan penipu yang dibayangkan Descrates sebagai alasan untuk meragukan segala sesuatu.

Bagi setiap orang yang terbiasa merenungkan gagasan konsep Tuhan dan memikirkan kesempurnaan tertinggi dari esensinya mengajak kita berpikir untuk lebih luas lagi.

Hal tersebut lebih mengarah terhadap penelaahan dari being maupun non-being berpikir lebih luas, menjadi lebih sederhana dan tidak dikaburkan oleh batasan apapun.

Referensi:

Russel, Betrand. 2007. “Sejarah Filsafat Barat”. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Kattsoff, Louis O. 2004. “Pengantar Filsafat” Penerbit Tiara Wacana. Yogyakarta

Poedjawijatna. 1990. “Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat”. Penerbit Rineka Cipta