banner 728x250

Makna Luhur Tradisi Kupatan bagi Umat Muslim Jawa Usai Idul Fitri

Menjaga tradisi Kupatan, Memasak Ketupat di Tungku. (Foto: Mazaya/Rubrika)

MALANG – Tradisi Kupatan masih sangat kental di lakukan oleh umat Muslim khususnya di Jawa. Lebaran Ketupat ini biasanya dirayakan pada sepekan setelah hari Raya Idul Fitri.

Ketupat ini memiliki makna yang luhur, terbuat dari bahan beras yang di balut dengan anyaman daun kelapa yang masih muda biasa disebut janur.

banner 336x280

Beras yang merupakan bahan ketupat melambangkan nafsu di balut dengan anyaman janur dalam makna Jawa sejatining nur atau cahaya sejati.

Filosofi Ketupat bagi orang Jawa dalam tindakan yaitu Laku Papat, yakni:

1. Lebaran : sudah usai, menandakan selesai menjalani puasa.

2. Luberan :  meluber atau melimpah, ajakan bersedekah kepada kaum fakir dan berzakat.

3. Leburan : melebur kesalahan dan dosa dengan saling memaafkan antar sesama manusia.

4. Laburan : berasal dari kata labur, dengan kapur untuk penjernih air serta pemutih dinding, dengan makna agar manusia menjaga kebersihan dan kesucian lahir dan batin.

Seiring berkembangnya zaman tradisi kupatan seyogyanya terus di lestarikan khususnya kaum milenial harus mampu meneruskan dijadikan pembelajaran untuk bisa memahami serta mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari tentang nilai luhur yang terkandung di dalam makna Hari Raya Ketupat yang biasa juga di sebut dalam tradisi Jawa yaitu Kupatan.

banner 336x280